Bondowoso. Moch. Faisal Gumblas, ustaz kelahiran Bondowoso tahun 1988 yang tak asing bagi masyarakat Bondowoso, terutama di kampung Arab tempat berdirinya Ma’had Al Irsyad Al Islamiyyah Bondowoso.

Lebih dari 12 tahun lalu, dia masih menjadi santri di Ma’had Al Irsyad Al Islamiyyah Bondowoso. Lalu kemudian menjadi guru muda di Ma’had ini pada tahun 2007 sambil terus memperdalam ilmu agamanya. Ia pun aktif dan turut serta dalam upaya mempertahankan kualitas Ma’had.

Ustaz Faisal, mengalami pasang surut ma’had. Saat dalam keaadaan sulit, dia tetap memilih mengajar di ma’had meskipun lembaga tak mampu menggajinya dengan cukup. Baginya, sudah sepantasnya seorang alumnus berjuang untuk ma’had karena cinta, bukan karena penghasilan.

“Ma’had ini bukan milik saya pribadi ma’had ini milik semua ummat muslim, terutama para alumni yang masih memiliki kecintaan pada ma’had ini,” tutur ustaz Faisal dengan tenang seperti biasa.

Sosok kalem ini cukup ulet dalam bekerja, bahkan banyak pekerjaan yang dapat dia kerjakan berkat keterampilan yang dia miliki. Mulai dari kemampuan mengajar, petukangan, hingga memperbaiki jaringan listrik dan sound system.

Semua warga Ma’had menenalnya sebagai sosok yang tak ragu untuk segera menyingsingkan lengan baju saat ada engsel kursi yang kendur, listrik yang mati, hingga speaker yang rusak. Apalagi soal ketertiban adminitrasi perkantoran.

Demi meningkatkan kualitas diri dan layanan, ustaz Faisal menambah kuliah S1 kependidikan hingga lulus pada tahun lalu. Dia pun bersama rekan-rekan pengajar lainnya berusaha meracik masukan-masukan dari berbagai pihak untuk mengembangkan Ma’had agar semakin baik dari tahun ke tahun.

Kabar baik datang dua tahun lalu saat Pimpinan Pusat Al Irsyad Al Islamiyyah membentuk Badan Pengembangan Pendidikan Pondok Al Irsyad Al Islamiyyah (BP3A). Badan ini secara khusus menangani Ma’had Al Irsyad Al Islamiyyah Bondowoso.

“Semua masukan sangat bergunan bagi Ma’had, terutama dari BP3A yang akan kami tampung semua dan akan kami coba realisasikan,” tambah ustaz Faisol.

Pada tahun 2017, Faisol Gumblas dipercaya untuk menjadi kepala Madrasah Aliyah Al Irsyad Al Islamiyyah Bondowoso. Jabatan tersebut merupakan amanah baru baginya, setelah sebelumnya menjabat menjadi Kepala Madrasah Tsanawiyah Al Irsyad Al Islamiyyah Bondowoso.

Ustaz Faisal sempat menolak jabatan ini karena besarnya tanggung jawab yang akan dia pikul. Namun akhirnya menerima karena menyadari ada banyak rekan guru yang siap menemani dan mendukungnya. Juga karena dukungan yang cukup besar dari Pimpinan Cabang, juga dari Lajnah Pendidikan dan Pengajaran.

Posisi kepala MTs kemudian digantikan oleh rekan seperjuangannya, ustaz Hairul Rozi. “Ustaz Faisal adalah sosok yang rendah hati,” terang ustaz Hairul Rozi.

“Perannya sangat besar dalam perjalanan dan perjuangan Ma’had. Namun, dia dengan kerendahan hatinya tetap akrab dengan para santri. Mengajar sambil terus mengasah diri di antara para santri. Dia tegas dalam rapat guru, namun jarang berdiri di depan para santri demi mempersilakan para guru baru untuk meningkatkan jam terbang. Dia adalah teladan bagi para santri dan juga bagi para guru,” lanjutnya.

Di mata para guru Ma’had, ustaz Faisal Gumblas dikenal sebagai individu yang sederhana. Meskipun kepala madrasah, dia selalu bersikap layaknya teman dan sahabat kepada para siswa dan guru. Sebagaimana dituturkan oleh Ustad Tri Yulistiawan, seorang guru ma’had, “Ustad Faisol dengan guru-guru sangat akrab, bahkan dengan guru yang baru dia tidak pernah jaga jarak. Ia menunjukkan bahwa kita sama, dan ruangan kepala madrasah menjadi tempat paling nyaman bagi kami untuk berdiskusi tentang Ma’had.”

Saat ditanya oleh tim jurnalis Ma’had tentang motivasi menjadi guru Ma’had dengan totalitas bekerja, dia terangkan “Saya ingin Ma’had maju dan saya merasa Ma’had ini sudah bagian dari diri saya, saya menganggap Ma’had ini bukan lagi tempat saya bekerja tapi Ma’had ini rumah saya yang harus saya jaga,” ucap Ustaz Faisol Gumblas.

“Saya merasa saat ini Ma’had sudah sangat baik, saya tidak mau menafikkan bahwa ini juga ada campur tangan-tangan dingin seperti Ustaz Ali Umar Basalamah selaku tim dari BP3A waktu itu, ditambah ustazah Kholifah sebagai ketua LPP sekaligus anggota BP3A. Lalu peran Ustaz Ibnu Rochi selaku mudir dan Ustaz Sodikun sebagai wakil mudir yang dengan penuh perhatiannya jauh-jauh datang dari Purwokerto. Serta para tokoh Al Irsyad dan para guru yang saling membantu mengembangkan Ma’had ini. Kondisi saat ini sangat berbeda dari kondisi sebelumnya yang kita harus benar-benar berjuang. Saat ini sudah tidak seperti dulu saat para guru berjuang mendidik santri sekaligus beruang mencari donatur untuk menjamin kecukupan makan para santri,” imbuh ustaz Faisal.

Saat ditanya apa pesan untuk para santri, dengan tegas dia katakan “Jangan pernah tanyakan apa yang akan kamu dapatkan dari Ma’had, tapi tanyakan apa yang akan kamu berikan untuk Ma’had”.()